PKK Jateng Dukung Program Jo Kawin Bocah

Terkini.id, Kudus- Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah mendukung penuh program Jo Kawin Bocah. Program Jo Kawin Bocah adalah upaya Pemprov Jateng untuk menekan angka perkawinan anak.

Wakil Ketua I TP PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin, mengatakan, perkawinan anak harus dicegah karena mengganggu kesehatan anak secara fisik maupun psikis, serta mengganggu tumbuh kembang anak. 

Jika terjadi kehamilan pada perwakinan tersebut, risikonya sangat besar dan ada pula risiko bayi lahir dalam kondisi stunting.

“Hak anak untuk mendapatkan pendidikan juga terhambat,” kata Nawal, saat membuka webinar dari Aula Kantor Dinas Kominfo Jateng di Kota Semarang, Kamis  3  Juni 2021. Webinar tersebut mengusung tema Peningkatan Imunitas Anak saat Pandemi Covid-19, Dorong Jo Kawin Bocah. 

Nawal menambahkan, progam Jo Kawin Bocah diharapkan bisa mendorong anak memiliki kesempatan tumbuh kembang yang optimal dan terjaga kesehatannya baik fisik maupun mental.

Kesempatan memperoleh pendidikan yang tinggi juga bisa terbuka lebar ketika anak terhindar dari perkawinan anak. 

Nawal berharap, tim penggerak PKK provinsi, kabupaten dan kota, berperan aktif dalam mendorong perencanaan sehat pada anak di tingkat keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas.

“Kami berharap kita semua lebih peduli dengan pencegahan pernikahan anak, agar anak-anak di Jawa Tengah menjadi lebih sehat dan lebih berkualitas,” kata Nawal.
Wakil Ketua IV TP PKK Provinsi Jateng, Tjondro Rini menambahkan, program Jo Kawin Bocah merupakan program luar biasa dalam mengatasi permasalahan kesehatan, terutama permasalahan perkawinan anak.

“Hal ini berkaitan dengan tugas yang dilakukan PKK Pokja IV yaitu perencanaan kesehatan. Program Jo Kawin ini dampaknya luar biasa kalau nanti bisa kita lakukan,” katanya.

Rini mengatakan perkawinan anak, berisiko tinggi pada saat persalinan. Bahkan ada risiko kematian pada persalinan itu. “Juga bisa terjadi kematian bayinya,” ujarnya.

Rini menambahkan, tumbuh kembang anak, terutama pada anak perempuan, mencapai kondisi optimal di usia 20 tahun. Jika anak kawin sebelum usia dewasa, hal ini berarti merampas hak anak untuk tumbuh kembang secara optimal dan mencapai kualitas sumber daya manusia yang baik.

“Apalagi kita akan menuju Indonesia Emas pada 2045 yang artinya kita harus menyiapkan generasi yang berkualitas,” kata Rini.

PKK Jateng, menurut Rini, siap mengampanyekan program Jo Kawin Bocah sampai ke tingkat keluarga. Menurutnya, PKK memungkinkan masuk ke rumah-rumah warga, melalui kader Dasa Wisma.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jawa Tengah, Retno Sudewi mengatakan, program Jo Kawin Bocah memang terus digelorakan. Apalagi, di media sosial dan sinetron televisi, ada pesan-pesan yang mendukung pernikahan usia anak.

“Pencegahan kawin anak ini dilakukan secara pentahelix meliputi pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa, dan komunitas,” kata Retno.

Retno menambahkan, pihaknya berharap PKK bisa menyosialisasikan program Jo Kawin Bocah sampai tingkat paling bawah atau grass root. (erh)

Bagikan