Kudeta di Sirkuit Sentul: Jika Seragam Memanggil, Semua Wajib Ikut

Terkini.id, Sentul – Pengguna road bike sedang jadi omongan. Aktifitas sejumlah pengayuh road bike mengokupasi jalan protokol di Jakarta tempo hari, diprotes mengendara motor. 

Fotonya viral dan jadi berita. Alih-alih dapat simpati, aksi mereka malah menimbulkan pro dan kontra.

Pada foto terlihat, karena terhalang peleton-nan berjajar empat, pengguna sepeda motor kesulitan melintas. Ia susah payah menyalip. Begitu melewati rombongan, pengendara motor protes. Dia mengacungkan jari tengah dan menekuk empat jari lainnya.

Baca Juga: Setelah Berpeluh, Cut Keke dan Rombongan Tiba di Kandang Godzilla

Road bike memang sedang happening. Sepeda ini paling enak dikayuh di jalan halus dan sepi dalam kecepatan tinggi. AVG-nya bisa di angka 30-45 kilometer per jam (kpj). Bahkan bisa lebih. 

Peristiwa acung jari tengah sebetulnya tak perlu terjadi jika semuanya tertib berjajar dua ke belakang. 

Baca Juga: IDC3 Tegaskan Semua Pesepeda Adalah Saudara

Pengguna jalan tak hanya sepeda, saling berbagi sehingga tak ada yang marah.

Kalau mau aman, tiru cara Kudeta alias Perkumpulan Pesepeda Jakarta melakukan aktivitasnya. Mereka tabu nge-loop di jalan protokol dan memilih kawasan pinggiran, utamanya daerah sepi, sehingga tak merugikan orang lain.

Jumat 26 Mei 2021 misalnya. Bersama-sama dengan Team BERA yang biasa di Mozia Loop, mereka ngebut di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung ada sekitar 125 pecinta road bike ikutan.

 

 

Tak sekadar ngebut, mereka juga latihan ketahanan (endurance) sejauh 50 Km. Rombongan dibagi empat peleton, memutari sirkuit berdasarkan kemampuan masing-masing. Peleton pertama ada di 40 kpj, peleton kedua 35 kpj, ketiga 30 kpj, dan keempat pada 28 kpj.

Bukan main ramainya. Sirkuit dipenuhi warna jersey merah dan biru. Itulah Kudeta. Jika ‘seragam’ sudah memanggil, pegowes wajib ikut andil. Bukan main… bukan main.

Oleh: Eko Guruh, pesepeda/anggota Kudeta

Bagikan